Wajah Baru Distrik Bordil Singapura

Penulis:  Bondan Winarno Penulis adalah Pemimpin Redaksi Harian Suara Pembaruan yang telah menyinggahi banyak tempat di dunia dan mencicipi hidangan khas tempat-tempat yang disinggahinya. (E-mail: bwinarno@indosat.net.id)  

Sepenggal jalan di Chinatown Singapura, Keong Saik Road, dulu dikenal sebagai tempat pelesiran kaum pria. Rumah-rumah di kiri-kanan jalan itu merupakan bordil tempat “menjajakan” amoy cantik untuk kenikmatan sesaat. Ya, saya memang akan mengajak Anda semua ke sana. Tapi, tunggu dulu, saya tidak mengajak Anda memasuki satu pun dari rumah-rumah bordil yang ada di sana.

Beberapa minggu yang lalu, seorang pembaca “Jalansutra”, Yohan Handoyo, mengumumkan “penemuan”-nya di forum Jalansutra. Katanya, ada sebuah tempat pijat istimewa di Geylang, Singapura. Wah, beberapa di antara kami sempat shock. Bukankah Geylang adalah distrik bordil yang sangat terkenal di Singapura. Mana ada tempat pijat yang istimewa di kawasan bordil? Dan, ah, masa Yohan keluyuran di kawasan bordil?

Yohan ternyata serius. Tempat pijat yang “ditemukan”-nya itu terletak di sebuah sasana bulutangkis di Geylang. Pemijatnya adalah sport masseurs yang memang piawai dalam ihwal memijat urat dan otot. Sudah pasti itu pijat sahih, bukan pijat yang merupakan intro untuk layanan seks.

Pemerintah Singapura memang sedang berusaha keras mengubah profil Geylang yang terdiri atas puluhan lorong itu. Dalam tata baru Geylang, dibangun berbagai gedung apartemen tinggi serta beberapa hotel, sengaja untuk mendesak kawasan yang semula penuh rumah bordil. Selain bangunan baru apartemen dan hotel (bukan hotel esek-esek!), di Geylang sekarang kita bisa menemukan berbagai kantor dan usaha yang sama sekali tak berhubungan dengan urusan pelesiran seks, antara lain sasana olahraga, kantor pusat satu sekte agama Buddha, dan restoran-restoran bagus (di antaranya yang menyajikan masakan kepiting paling enak!).

Keong Saik Road merupakan replikasi Geylang dalam soal penggusuran bisnis seks dari wajah Singapura. Bedanya, bila Geylang merupakan kawasan yang luasnya sekitar satu kelurahan, Keong Saik Road hanya sepenggal jalan yang panjangnya sekitar 200 meter. Jalan sempit melintang yang menghubungkan Neil Road dan North Bridge Road itu kini telah bersalin rupa menjadi salah satu kawasan elite baru di Singapura.

Dalam bahasa Kanton, jalan ini juga dikenal dengan nama San Chou Fu. Artinya, jalan tiga arah. Di ujung Keong Saik Road ini memang ada cabang jalan yang membentuk pertigaan. Jalan ini diberi nama sesuai dengan saudagar kaya yang dulu tinggal di sana, Tan Keong Saik. Sebelum menjadi kawasan bordil, jalan ini dikenal sebagai pusat toko-toko yang sekaligus membuat dan memperbaiki sepatu.

Transisi dari toko sepatu menjadi rumah bordil, konon, disebabkan hadirnya orang-orang kaya yang membelikan rumah bagi para gundiknya di jalan itu. Karena kebanyakan gundik kemudian melorot pangkatnya menjadi perempuan panggilan atau mama-san (germo), maka lama-kelamaan hampir semua ruko di jalan itu menjadi rumah bordil. Pada masa jayanya, tak kurang dari 60 rumah bordil beroperasi di Keong Saik Road.

Tak heran bila supir taksi yang mengantar saya ke sana tidak lupa mengucapkan “Have a nice evening!” dengan senyum khas ketika menurunkan saya di ujung jalan. Rupanya, dia pun menduga saya akan berkunjung ke salah satu bordil yang memang masih belum semuanya “punah” dari sana. Maklum, reputasi baru Keong Saik Road belum cukup dikenal banyak orang.

Di Singapura, rumah-rumah bordil ditandai dengan nomor rumah yang dibuat dalam ukuran besar, berbentuk boks lampu neon dasar putih dengan tulisan merah, sehingga tampak cukup mencolok dari jauh. Sekalipun demikian, tampaknya masih banyak juga orang yang kesasar. Karena itu, di Geylang Road, rumah-rumah penduduk biasa ditambahi tulisan “Private Residence” untuk membedakannya dengan rumah bordil. Padahal, rumah-rumah pribadi itu tidak memakai lampu boks neon putih-merah. Barangkali banyak yang ngebet membuntuti gadis cantik yang ternyata putri pemilik rumah pribadi di kawasan itu.

Di sepanjang Keong Saik Road itu – di antara sekitar 100 ruko (rumah toko) bertingkat tiga dan empat – saya hitung masih ada sepuluh rumah yang di depannya memakai nomor besar dengan boks neon. Artinya, bisnis seks toh masih berjalan di sana, sekalipun sudah makin terdesak. Rumah-rumah bordil itu sekarang juga menjadi tampak mencolok perbedaannya dengan penampakan baru rumah-rumah di sekitarnya yang telah dipugar dengan wajah yang lebih modern dan menarik.

Di ujung Keong Saik Road terdapat sebuah kuil Hindu yang cukup ramai dikunjungi. Hampir berseberangan dengan kuil kecil itu terdapat sebuah hotel butik yang tampak rapi berkelas. Nama hotel itu “1929”. Sebuah restoran bernama “Ember” (Inggris = percik bara api) di lantai dasar, dengan jendela-jendela lebar menghadap ke jalan, sudah menjadi salah satu tempat makan yang chic dan terkenal di Singapura sekarang ini. Masih ada juga dua hotel kecil lainnya yang tampaknya tergolong berbintang satu atau dua, bernama “The Royal Peacock Hotel” dan “Keong Saik Inn”.

Saya tertarik singgah di toko buku merangkap kafe bernama “Whatever”. Toko bukunya kecil. Begitu pula kafe-nya. Tetapi, di depan toko, di lebuh jalan, diatur beberapa meja dan kursi untuk pengunjung. Saya duduk di luar sambil minum dan mengamati orang-orang yang lalu-lalang. Persis di seberang jalan ternyata ada “Whatever” yang lain, tetapi dengan label “the yoga & healing space”. Di jalan itu juga ada sebuah spa de beaute yang lain.

Sebelah-menyebelah “Whatever” terdapa dua rumah bordil. Karena itu saya sempat melihat beberapa orang yang keluar-masuk dari tempat itu. Hampir semua yang masuk dan keluar adalah pria Tionghoa berusia di atas 50 tahun. Kalau turun dari taksi, mereka bergegas masuk. Mereka yang keluar sehabis having fun, bergegas berjalan menyelinap di antara pejalan kaki yang lain, lalu berhenti menunggu taksi di depan restoran atau kafe di jalan yang sama. Sayang, selama setengah jam duduk di sana, tak tampak para perempuan PSK (pekerja seks komersial) yang bekerja di rumah-rumah itu, sehingga tak dapat memberikan laporan pandangan mati bagi Anda.

Kafe lain yang menarik dan ramai dikunjungi di Keong Saik Road adalah di rumah nomor 37. Namanya “37 The Bar”. Bar ini hanya buka pada sore hari hingga malam. Pengunjungnya kebanyakan orang berkulit putih, dan eksekutif muda Singapura. Kebanyakan datang dengan pasangan masing-masing.

Dekor bar atau kafe ini sangat minimalis. Dindingnya dihias foto-foto lama Singapura. Pintu besi asli bangunan tua yang dicat merah masih dibiarkan sebagai pintu masuk. Jenis pengunjungnya menciptakan suasana yang cozy dan hip. Di antara sofa dan kursi empuk, terdapat sebuah ayunan dari tali yang menjuntai dari langit-langit. Seorang pengunjung perempuan berkulit putih tampak keasyikan berayun-ayun di ayunan itu.

Sayangnya, tidak ada pengunjung yang berdansa di atas meja bar. Sejak tahun lalu Singapura memang mengubah undang-undangnya dan mengizinkan pengunjung berdansa di atas meja bar (table-top dancing). Selama undang-undang baru itu berlaku, saya belum pernah melihat orang berdansa di atas meja bar. Mungkin karena saya memang jarang berkunjung ke bar di Singapura.

Kabarnya, tidak jauh dari situ sedang direnovasi sebuah ruko menjadi karaoke club merangkap rumah bilyar dan kafe. Di situ nanti orang bisa melakukan table-top dancing. Namanya, “X-Zone”. Waktu saya ke sana, memang belum dibuka. Tetapi, menurut bartender di “37 The Bar”, meja bar di “X-Zone” sedang dibuat khusus untuk table-top dancing yang seronok.

Gaya funky “37 The Bar”, “Whatever”, “X-Zone”, dan “The Ember”, masih belum sepenuhnya menghapus wajah lama Keong Saik Road dengan beberapa rumah makan sederhana yang menawarkan nasi campur, laksa, dan dendeng manis Singapura. Persis di sebelah “37 The Bar” juga ada restoran dimsum bernama “Xin Nan Tang” yang juga mempertahankan gaya tradisionalnya.

Sebuah kelenteng dan toko grosir masih bertahan di jalan yang sedang mengalami transisi menjadi kawasan funky dan elite itu. Sementara itu, masih murahnya sewa bangunan di kawasan itu makin banyak menarik patron baru. Sebuah stasiun radio dan televisi Jerman membeli sebuah ruko dan mengubahnya sebagai kantor mereka yang baru. Ada juga kantor perusahaan yang bergerak di bidang event marketing, arsitek, griya produksi, art gallery, dan lain-lain.

Hadirnya hotel butik dan beberapa gerai modern yang hip memang telah mulai mengubah suasana umum di Keong Saik Road. Jalan ini tidak lagi merupakan tujuan pria-pria tua yang mencari pelesiran seksual, melainkan menjadi tempat kaum muda elite makan angin.

Sebentar lagi, bila rumah-rumah bordil sudah semuanya angkat kaki dari sana, Keong Saik Road pasti akan menjadi objek pariwisata baru bagi Singapura. Makanya, sebelum menjadi ramai dan turistik, segeralah ke sana! Senyampang masih ada bordilnya. Eh, salah, ya?

http://www.kompas.co.id/utama/news/0401/09/110941.htm

TrackBack Identifier URI

  • RSS Heboh …..

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.